Sabtu, 24 November 2012

Resensi film Alangkah Lucunya Negeri Ini




ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI
Diceritakan dalam sebuah film yang dimulai dengan menggambarkan seorang anak muda yang lulusan Managemen yang bernama Muluk. Sebagai seorang yang baru saja lulus kuliah, tentu saja berupaya untuk mencari kerja. Dengan berbekal ijazah managemen yang dimiliki serta surat kabar yang memuat berbagai lowongan kerja, dia keluar masuk berbagai perusahaan untuk melamar. Namun, semua lamaran tersebut tidak membuahkan hasil. Malah, di sebuah perusahaan, pengetahuan manajemen yang dimilikinya dinyatakan tidak berguna karena pimpinan perusahaan tersebut sudah mencoba segala jenis manajemen, mulai manajemen Amerika, China, Jepang hingga manajemen Arab namun tidak berhasil menyelamatkan perusahaannya. Juga pada saat melamar di perusahaan lain dan ditawarkan untuk menjadi TKI, sebuah bayangan hukum cambuk TKI di Malaysia segera menghinggapi pikiran Muluk yang langsung menolak dengan meninggalkan tampat yang didatangi tersebut. Tapi Muluk terus berusaha dan sampailah di alamat pabrik berikutnya,tapi pabriknya sudah pindah ke Vietnam. Akhirnya Muluk menemukan buku yang berhubungan dengan ternak cacing dan ingin mencobanya.
Di sisi lain, ayah Muluk yang bernama Pak Makbul berdebat serius dengan Haji Sarbini yang merupakan calon besannya mengenai apakah pendidikan itu penting atau tidak. Keduanya terus saja berdebat tentang hal tersebut walaupun berusaha dilerai oleh Haji Rahmat, seorang tetua (kiai) dalam bidang agama Islam di daerah tersebut. Perdebatan itu selalu mengarah bahwa pendidikan tidak penting karena ada keluarga dan kenalan Haji Sarbini yang bekerja walaupun tidak mengenyam pendidikan, bahkan mencontohkan Muluk yang sudah sarjana namun tidak juga bekerja.
Muluk, yang terus berkeliling mencari kerja akhirnya melihat sekelompok anak yang melakukan aksi copet di sebuah pasar. Dengan geram Muluk mengikuti dan menangkap anak tersebut dan mengancam melaporkannya kepada polisi. Sebuah pernyataan keluar dari Muluk saat itu, yaitu Mengapa mencopet, kalau butuh khan tinggal minta saja, si copet yng bernama komet pun menjawab bahwa dia itu pencopet, bukan peminta-minta. Jawaban yang mengagetkan ini menyebabkan Muluk tidak dapat berkata-kata dan pada Muluk akhirnya melepaskan searang copet yang bernama Komet tadi, dan inilah yang menjadi awal pertemuan dan perkenalan mereka. Beberapa waktu kemudian, di sebuah warung, terjadi pertemuan yang tidak disengaja antara Muluk dan Komet. Komet akhirnya membawa Muluk ke markasnya dan memperkenalkan dengan Jarot yang menjadi pemimpin para pencopet. Perkenalan Muluk dan Jarot serta para pencopet menghasilkan kesepakatan bahwa Muluk akan bekerja bersama para pencopet tersebut untuk mempraktekkan ilmu manajemen yang dimiliki dengan mengelola keuangan mereka. Ini ditawarkan oleh Muluk dengan imbalan 10% dari hasil copet mereka. Meskipun banyak terjadi pertentangan. Tujuan Muluk adalah agar hasil copet mereka dapat dikelola secara profesional dan akhirnya dapat dijadikan sebagai modal usaha agar tidak perlu menjadi pencopet lagi.
Hari berikutnya, Jarot sebagai pimpinan pencopet memperkenalkan Muluk kepada seluruh anggota timnya dan menjelaskan kelompok dan metode kerja mereka. Secara umum, kelompok pencopet ini dibagi menjadi 3, yaitu kelompok mall yang terdiri atas pencopet yang berpakaian paling keren, kelompok pasar yang berpakaian paling kumal, dan kelompok angkot yang berpakaian sekolah. Setiap kelompok memiliki pemimpin dan metode kerja sendiri-sendiri. Dan Muluk pun memperkenalkan apa itu yang dimaksud management atau pengaturan bahwa dimana mengatur dan berfikir yang benar lebih sulit. Dari sinilah Muluk bisa mengenali siapa saja dan bagaimana cara kerjanya.(Resensi film Alangkah Lucunya Negeri Ini)
Setelah beberapa lama Muluk bergabung dengan mengatur uang hasil mencopet. Muluk mempunyai keinginan dan beranggapan bahwa anak-anak ini juga butuh pendidikan, dan untuk mengajar mereka, dan Muluk pun meminta bantuan Samsul, seorang Sarjana Pendidikan yang tidak mempunyai pekerjaan yang sehari-hari hanya bermain kartu saja di sebuah pos ronda. Ketika diajak pertama kali Samsul sangat sulit untuk menjelaskan apa itu pendidikan kepada para pencopet yang masih anak-anak. Dan akhrirnya bisa disetujui juga. Awal Samsul mengajar juga banyak menampilkan hal-hal yang menggelikan sekaligus memprihatinkan. Anak-anak pencopet ini sama sekali belum pernah tersentuh oleh pendidikan sebelumnya. Bahkan, karena tidak dapat membaca, salah seorang diantara mereka pernah lari ke kantor polisi saat dikejar massa karena tidak mampu membaca. Selain itu, Samsul mengalami kesulitan saat menjelaskan mengapa mereka sampai membutuhkan pendidikan, bahkan anak-anak ini menjadi bersemangat setelah mengetahui salah satu ciriciri koruptor adalah berpendidikan dan menjadikan koruptor sebagai cita-cita mereka. (Resensi film Alangkah Lucunya Negeri Ini)
Sebuah permasalahan kecil terjadi saat ayah Muluk bertanya mengenai pekerjaannya. Dengan terpaksa Muluk berbohong dan menjawab bahwa pekerjaannya adalah di bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia. Beberapa waktu kemudian, Haji Rahmat meminta Muluk agar dapat mempekerjakan anaknya, Pipit, karena sehari-hari Pipit hanya mengurusi kuis-kuis di televisi dan mengirim undian berhadiah kemana-mana. Muluk-pun menyanggupi hal tersebut dan mengajak Pipit untuk mengajar agama bagi anak-anak pencopet. Pipit kaget saat pertama kali diajak ke tempat kerjanya yaitu markasnya para pencopet dan pada awalnya tidak tahu yang akan diajar adalah pencopet. Dalam proses pengajaran Pipit merasa senang bisa mengajar anak-anak pencopet tersebut dalam bidang agama. Dan mereka Muluk,Samsul dan Pipit mengajak anak-anak pencopet tersebut melihatkan dan memberi tahu gedung wakil rakyat dan menyindir para koruptor. Dalam proses pengajaran kewarganegaraan dan agama banyak hal-hal unik yang terjadi dan anak-anak pencopet pun merasa bahagia.
Akhirnya, permasalahan tiba. Pak Makbul ayah Muluk, Haji Rahmat ayah Pipit, dan Haji Sarbini calon mertua Muluk ingin mengetahui dan melihat dimana tempat kerja Pipit, Pipit pun kaget dan bingung dengan terpaksa dia mengajak ke markas yang kebetulan ada acara untuk menjadikan profesi pencopet menjadi pengasong. Muluk dan Samsul terkejut akan kedatangan Mereka dan Muluk pun merasa malu atas pekerjaannya, Mereka pun amat terkejut sewaktu mengetahui bahwa anak-anak mereka rupanya bekerja sebagai pengajar para pencopet walaupun pakerjaan yang mulia tapi hasil kerjanya dari uan mencopet dan yang lebih menyakitkan hati Mereka, bahwa makanan yang selama ini mereka makan berasal dari uang hasil copet atau uang haram.
Pertentangan batin yang hebat segera terjadi di hati Ayah Muluk dan terjadi perdebatan pandangan antara Muluk dan Pipit dan keluaraganya. Dan akhirnya aktivitas Mereka untuk bekerja berhanti setelah ada pemikiran yang dipikirkan matang-matang. Pilihan yang amat berat yaitu mengajar anak-anak pencopet itu agar dapat mandiri dan meninggalkan dunia copet mereka namun memperoleh uang hasil copet yang haram, atau meninggalkan mereka dan tidak berbuat apa-apa. Dan keputusan tersebut membuat samsul kembali ke aktivitas lamanya yaitu sebagai pengangguran yang pekerjaannya main kartu saja begitupun dengan Pipit yang tiap hari mengikuti kuis.
Usaha yang dilakukan Muluk dkk telah membawakan hasil meskipun hanya sebagian pencopet yang mau menjadi pengasong walaupun sebelumnya terjadi perbedaan pandangan diantara pencopet dan mereka berangapan bahwa negera ini bebas jadi bisa memilih apa saja. Tetapi disini timbul masalah lagi yaitu para pengasong yang dirazia satpol PP. Meskipun begitu mereka tidak menyerah dan menganggap pengorbanan Muluk kepada mereka sangatlah besar.(Resensi film Alangkah Lucunya Negeri Ini)

Kesimpulan
Film ini mengambarkan  tentang seorang sarjana  manajemen yang sedang berusaha mencari kerja namun gagal terus, sehingga dia berusaha untuk mencari peluang usaha, yaitu dengan mengelola pencopet dan berusaha agar menaikkan harkat pencopet tersebut menjadi penjual asongan. Namun banyak sekali halangan dan rintangan yang dihadapinya di tengah jalan, salah satunya yaitu kekecewaan orang tuanya terhadap pekerjaan itu. Karena niatnya yang sangat baik itu akhirnya dia berhasil memanajemen pencopet, dan pencopet-pencopet itu beralih menjadi pedagang asongan.
Pesan dan kesan
Menurut saya film ini sangatlah baik untuk menggambarkan kritik sosial yang terjadi pada saat ini. Yaitu tentang bagaimana penting tidaknya pendidikan,karena setelah mengenyam pandidikan tinggi pun masih sulit mancari kerja. Dari isi film sendiri dari pemeran utama yaitu Muluk dan teman-tamannya mempunyai tujuan yang sangat mulia yaitu ingin merubah para pencopet agar beralih menjadi pengasong dengan cara memanajemen uang hasil copet dan memberikan pendidikan baik secara formal maupun pendidikan agama. Tetapi walaupun tujuannya bagus dan sangat mulia tapi penghasilan Muluk dan teman-temannya adalah dari hasil mencopet dan itu tidak boleh”haram”, sehingga orang tua mereka sangat sedih karena mereka makan dari uang haram.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda